25 Aug 2026

When Your Silence is Deafening

When Your Silence is Deafening

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang menuntut segalanya untuk disuarakan, kita sering lupa bahwa kekuatan terbesar tidak selalu datang dari suara yang paling nyaring.

​Kita hidup di era di mana setiap pencapaian seolah wajib dipamerkan dan setiap prinsip harus diperdebatkan. Padahal, integritas tidak diukur dari seberapa keras kita memproklamirkan siapa diri kita, melainkan dari bagaimana kita bersikap saat tidak ada panggung yang melihat.

​Karakter sesungguhnya dibentuk dalam senyap. Nilai diri bukanlah deretan kata untuk meyakinkan orang lain, melainkan keputusan kecil yang diambil secara konsisten dalam diam.

​Tindakan akan selalu lebih nyaring dari sekadar narasi. Ketika prinsip hidup sudah mengakar kuat, kamu tidak lagi merasa perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun.

​Ketenangan bukanlah bentuk ketidakmampuan untuk bersuara, melainkan tanda dari jiwa yang sudah selesai dengan urusan validasi.

​You don't need to tell the world your values when your silence is already deafening.

​Sebab di dunia yang makin bising, kadang yang paling berarti adalah yang paling senyap.

17 Jun 2026

Merawat Kebebasan

Mencintai adalah tentang merawat kebebasan, bukan memaksakan ego kepemilikan.

Sama halnya dengan bunga: jika kita mencintainya, kita tidak akan memetiknya. Sebab, memetiknya hanya akan membuatnya layu, mati, dan kehilangan keindahannya.


Mencintai yang tulus adalah menjaga sesuatu tumbuh indah di atas fitrah dan garis takdir yang Tuhan ridhoi, bukan memaksakan kehendak kita.

"Cinta tidak memiliki apa pun, dan tidak ingin dimiliki oleh siapa pun. Karena cinta telah cukup bagi cinta itu sendiri." — Kahlil Gibran

21 Dec 2025

Bencana dan Empati

Bencana dan Empati

Banjir di Aceh kembali menunjukkan satu hal yang sering luput dibicarakan: empati adalah fondasi solidaritas.

Richard Rorty pernah menulis, “It is not rationality but sentimentality which leads us to solidarity.” Solidaritas lahir bukan dari hitung-hitungan kebijakan, melainkan dari kemampuan melihat orang lain sebagai fellow sufferers.

Mungkin itu sebabnya respons seorang pemimpin daerah dapat membangkitkan dukungan luas. Bukan karena kebijakan yang sempurna, melainkan karena kehadiran emosional—karena penderitaan rakyat diakui sebagai penderitaan bersama.

Elite yang hidup jauh dari kerentanan sosial dan berjarak dari pengalaman krisis berisiko mengalami penyempitan empati. Bukan karena niat buruk, melainkan karena tidak pernah terlatih memandang penderitaan orang lain sebagai penderitaan sesama—fellow sufferers. Akibatnya, ketika krisis datang, penderitaan publik tidak dirasakan sebagai penderitaan bersama, tetapi direduksi menjadi persoalan teknis yang harus dikelola.

Di sinilah korelasi itu terlihat jelas: budaya HAM yang rendah berjalan beriringan dengan empati sosial yang lemah.

Hak asasi mudah menjadi formalitas ketika penderitaan tidak lagi dirasakan secara personal.

Maka mungkin, bencana yang sesungguhnya bukan hanya banjir, tetapi nirempati—ketika penderitaan manusia direduksi menjadi laporan, angka, dan prosedur.

Kalau Immanuel Kant menjelaskan mengapa kita wajib peduli; maka Rorty menjelaskan mengapa kita benar-benar peduli.

31 Oct 2025

Kompetensi dan Keadilan

Kadang, tanpa sadar, kita menuntut orang lain untuk bersinar di bidang yang bahkan bukan miliknya. Kita menilai kemampuan bicara dari seseorang yang pekerjaannya padahal menuntut ketelitian, bukan keahlian retorika. Kita menyamakan standar tanpa melihat konteks, lalu heran ketika hasilnya tidak sesuai harapan.

Padahal, kompetensi itu seperti habitat, setiap individu tumbuh optimal di lingkungan yang sesuai dengan perannya. Tidak adil jika kita menilai kera dari caranya berenang, atau mencemooh ikan karena tidak bisa memanjat pohon.

source: reddit

Keadilan dalam menilai bukan berarti menurunkan standar, tapi memahami perbedaan dasar antara potensi dan relevansi. Kita tidak bisa menilai setiap kemampuan dengan satu ukuran yang sama. Ada orang yang unggul karena ketajaman analisisnya, bukan karena kefasihan bicaranya. Ada yang lebih berharga karena kepekaan dan kesabarannya, bukan karena keberaniannya tampil di depan.

Maka sebelum menuntut orang lain untuk “lebih baik”, mungkin kita perlu bertanya dulu: apakah yang saya tuntut memang relevan dengan perannya, atau sekadar proyeksi dari ekspektasi saya sendiri?

Keadilan dalam kompetensi dimulai dari kesadaran: bahwa tidak semua keunggulan harus seragam, dan tidak semua kekurangan berarti gagal.

13 May 2025

Ketika badai datang: manusia tak lari, mereka berubah




Manusia di-design luar biasa untuk beradaptasi. Bahkan sering kali, justru tekanan dari luar itulah yang mengasah mereka menjadi lebih solid, lebih terarah.

Musuh bersama (entah dalam bentuk krisis, perubahan, atau tekanan) bisa menjadi pemicu kohesi yang sebelumnya tak disadari.

Bukan karena mereka sepakat dalam segalanya. Tapi karena mereka sepakat untuk bertahan bersama.

Lewis Coser, sosiolog teori konflik, dalam bukunya The Function of Social Conflict, menuliskan:

"Conflict with outsiders tends to increase the internal cohesion of the group, to mobilize its energies and to strengthen its consciousness of its own identity."

Maka saat tantangan datang dalam sebuah komunitas kelompok, jangan buru-buru melihatnya sebagai beban. Lihat potensinya sebagai pemersatu.

Karena ini bukan tentang manusia yang bertahan. Tapi tentang mereka yang bertumbuh bersama.

10 Sept 2024

The Paradox of Choice (#3): Plenty Choice and Anxiety

Setelah memahami dua konsep #1 dan #2 yang saya tulis sebelumnya, ternyata "kesulitan dalam memilih" dan "anxiety" memang terhubung kait oleh sistem fisiologis otak kita yang kompleks ini.

Premis sederhananya kurang lebih seperti ini: Ketika banyak opsi, kita jadi bingung opsi mana yang paling worth. Kebingungan tersebut membuat sulit untuk mengambil keputusan (analysis paralysis), sehingga menghadirkan situasi yang tidak pasti (uncertainty). 

Uncertainty inilah yang membuat kecemasan dan tubuh merespon dengan "banjirnya" hormon noradrenaline. 

 --
Ada dua buku yang di antaranya dikutip dalam The Paradox of Choice. Judulnya "The American Paradox: Spiritual Hunger in The Age of Plenty" dan "The Loss of Happiness in the Market of Democracies". Dari judulnya kita sudah tahu apa message dari buku-buku tersebut. 

Buku pertama yang ditulis oleh ahli psikologi David Myers mendeskripsikan fakta statistik di US, bahwa sejak tahun 1960-an perceraian meningkat dua kali lipat; tingkat bunuh diri pada remaja meningkat tiga kali lipat; kriminalitas meningkat 4x lipat, dan seterusnya. Freedom of choices yang disangka meningkatkan taraf well-being, ternyata malah terjadi berkebalikannya. 

-- 

Fakta dalam sejarah perjalanan manusia, ternyata hal-hal yang membuat kita bahagia itu bukanlah hal yang membuat kita bebas. Tapi justru hal yang mengikat kita. Relationship yang membuat kita bahagia, karena ada batasan-batasan di dalamnya. 

Keluarga yang membuat kita bahagia, karena ada rules dan value di dalamnya. Ketika seseorang ingin berada dekat dengan keluarga, tentu dia akan mengeliminasi lokasi pekerjaan yang membuatnya jauh dari keluarga. Value yang kita pilih untuk membahagiakan kita, secara tidak sadar ternyata membuat kita mengerucutkan pilihan-pilihan dalam hidup. 

Happiness limits our own possibilities. 
But less is more.

25 Mar 2024

The Paradox of Choice (#1): Analysis Paralysis

Kita pasti berpikir, memiliki limitless option and choice itu menyenangkan, karena bisa memenuhi personal choice masing-masing. The more choice, the better. Gitu katanya.

Photo by Jon Tyson on Unsplash


Kita tahu manusia memiliki keinginan dan desire terhadap  pilihan yang tidak terbatas dan kita mungkin percaya bahwa manusia memiliki kemampuan untuk me-manage opsi-opsi tersebut.

Well, Dr. Barry Schwarts dalam buku The Paradox of Choices menjelaskan bahwa pada titik tertentu, jumlah pililhan akan meningkatkan kebahagiaan. Tapi jika pilihan terlalu banyak, justru membuat happiness seseorang akan berkurang.

-

Tahun 2000, ada studi yang berjudul menarik: "When Choice is Demotivating: Can One Desire too Much of a Good Thing?" 

Dalam experiment tersebut, sebagian orang diberikan pilihan 24-36 jenis rasa selai yang berbeda-beda. Di saat yang lain, mereka diberikan pilihan 6 jenis rasa saja. 

Hasilnya? Opsi yang lebih sedikit memiliki tingkat penjualan 10 kali lebih banyak. Limited option changes consumer purchasing behavior.

Ketika terlalu banyak pilihan, maka otak kita jadi terlalu banyak pertimbangan, akhirnya malah ga bisa ambil keputusan (analysis paralysis). 

Dalam konteks purchasing behaviour ini, otak kita akhirnya mensimplifikasi dengan "duh bingung pilih yang mana, yaudah dari pada nanti nyesel salah pilih, ga jadi beli aja deh".

-

Sekarang saya jadi paham, kenapa dalam meeting yang bersifat strategic, pembahasan sudah mengerucut pada sedikit opsi pilihan apa yang akan diambil. Dan bahkan sudah tidak lagi membahas "how-to" nya.

dan dalam level personal, membatasi pilihan membuat psikologis kita lebih rileks dan terhindar dari anxiety.

So, let's start to made less option.



8 Sept 2016

Sentralisasi Kepemimpinan: Masih Jaman?

Sentralisasi Kepemimpinan: Masih Jaman?
Ketika sedang asyik santai, saya ditanya oleh teman tentang pendapat saya terhadap sentralisasi kepemimpinan. "Mengharuskan seluruh detail organisasi melalui jalur pemimpin", tambahnya menjelaskan kondisi yang dimaksud. Saya hanya mengernyitkan dahi, sambil berkata, "emang masih jaman?"


*Logika Sederhana*

Saya tidak perlu berpikir rumit, untuk memberikan pernyataan bahwa pemimpin model seperti itu berarti pemimpin yang tidak siap untuk membawa institusi yang dipimpinnya menjadi besar.

Ambil saja contoh sederhana. Ketika Anda belum memiliki KTP, apakah harus menghubungi Presiden RI sebagai pucuk pimpinan tertinggi di negara kita?
Ketika kita ingin mengurus beasiswa di kampus, apakah kita harus mengejar jadwal kesibukan Rektor untuk meminta persetujuannya?

Kedua contoh sederhana itu menandakan, bahwa pemimpin yang besar, dan bercita-cita besar mempercayai organisasinya. Presiden percaya bahwa SKPD terkait hingga unit terkecil dapat menyelesaikan masalah KTP tersebut. dan Rektor percaya, bahwa sistem birokrasi yang dibentuk mampu menyalurkan beasiswa secara proporsional.

Pemimpin besar tidak disibukkan oleh hal-hal kecil. Tapi dia percaya bahwa organisasinya mampu menyelesaikan hal tersebut.

*Bukti Sejarah*

Tahun 1945, Soekarno dielu-elukan oleh seluruh masyarakat Republik yang baru terbentuk ini. Tapi, siapa sangka, seiring perjalanan kepemimpinannya, Soekarno memperlihatkan gelagat sentralisasi kebesarannya sebagai pemimpin: membentuk demokrasi terpimpin, membubarkan parlemen, ingin menjadi presiden seumur hidup, membatasi dan membubarkan partai politik, mengambil alih pimpinan Angkatan Bersenjata, dan lain sebagainya. Pokoknya, dia ingin segala sesuatunya dikendalikan dari tangannya.

Hasilnya apa? Demokrasi terpimpin yang diciptakannya, justru memupuk kebencian. Tahun 1966, tokoh yang dulu begitu dicintai ini dibenci oleh nyaris seluruh rakyat saat itu. Hingga beralih pada masa orde baru.

Masa orde baru pun akhirnya lama-kelaman mulai tersentralisasi. Bermula dari UU No. 5 tahun 1974 yang mengatur tentang pemerintahan daerah dengan sangat sentralistik. Sistem pertahanan dan keamanan terpusat pada komando The Smiling General. Semua kebijakan dan peraturan daerah dikendalikan oleh pusat. Daerah hanya memiliki wewenang untuk menjalankan dan menerapkan peraturan yang sudah dibuat oleh pusat. Bahkan posisi pejabat daerah, harus mendapat restu dulu dari pemerintah pusat. Pokoknya pemerintah pusat ga mau ketinggalan untuk campur tangan urusan daerah, walau yang terpencil sekalipun.

Hasilnya apa? Tahun 1998 adalah puncak kejemuan rakyat. Tokoh yang dulu dicintai karena berhasil menumpas PKI tahun 66 itu, justru dibenci dan dihina.

See? Sejarah bangsa membuktikan, bahwa sentralistik pada pemimpin ternyata hanya mengubah cinta follower menjadi kebencian.

*Teori Kepemimpinan*

Masyarakat sekarang ini lebih cerdas, walaupun kadang kebablasan dengan dalih "kebebasan berpikir"-nya. Tapi, melihat kecenderungan zaman sekarang, orang sudah lebih kritis dan tidak lagi mau hanya dipimpin secara otoriter. Orang yang independen akan lebih senang jika diberi kepercayaan dibanding dikontrol secara terus menerus.

Lihat saja anak-anak zaman sekarang, mereka akan "berontak" kalau diasuh dengan pola otoriter. Mereka menuntut untuk diberikan kepercayaan dan independensi dalam beberapa hal. Itulah yang dikenal dengan pola authoritative yang diperkenalkan oleh Diana Baumrind (jurnal Effects of Authoritative Parental Control on Child Behavior, 1966).

Dalam hal kepemimpinan, Daniel Goleman (dalam Emotional Intelligence) menjelaskan kepemimpinan authoritative merupakan kepemimpinan yang paling berefek positif dalam lingkungan organisasi.

*Konklusi*

Akhir abad 18 saja, kepemimpinan sentralistik sudah dikritik. John Dalberg Acton mengatakan "power tends to be corrupt, but absolute power is corrupt absolutely" (kekuasaan membawa kecenderungan korupsi. Tapi kekuasaan mutlak sudah tentu sebuah korupsi).

So, di abad 21 ini masih ada orang dengan kepemimpinan sentralistik yang ingin ngatur segalanya? emang masih jaman?


--

20 Aug 2016

Mini Software Statistik

Salam

Jika sebelumnya saya menggunakan tiga mini software berbeda untuk
1. Menghitung T,R, dan F Table
2. Menghitung Mean dan SD Hipotetik
3. Membuat Kategorisasi dengan 5 kelas (ST, T, S, R, SR)

Sekarang, saya merapikan kembali mini software tersebut, dan menjadikannya dalam satu file.

So, link-link yang merujuk pada file-file sebelumnya akan expire, dan dialihkan ke file terbaru ini.

Silakan Download di sini




19 May 2016

Membangun Teamwork

Membangun Teamwork

Kenapa Kita Harus Bekerja dalam Team?

  • menghindari overconfidence (kepercayaan diri yang berlebih)
  • menghindari salah tangkap pemikiran
  • mengatasi masalah kinerja individu yang tidak cukup kuat untuk mencapai hasil
  • belajar dari orang lain tentang pengalaman dan sudut pandang mereka
  • belajar dari orang lain tentang keahlian dan spesialisasi mereka
  • meningkatkan kuantitas dan keragaman ide
  • team work merupakan skill untuk peningkatan karier di zaman modern ini.

Kenali Karakter Otak Kita

kita bertanya-tanya, kenapa teamwork terkadang berjalan, dan terkadang terhambat di situasi tertentu. nah, jawabannya adalah kita harus mengetahui karakter dasar (kebiasaan) otak kita, untuk membantu kita mendesain dan mengimplementasikan kolaborasi yang lebih efektif.

1. Otak kita sosial

so, apa pun alasannya, otak kita pada dasarnya sangat memerlukan hubungan sosial (relationship).

2. Otak kita fokus pada pertahanan hidup (survive)

sehingga, otak kita akan sangat mudah untuk pindah ke mode pertahanan diri (defense). inilah sebabnya kenapa kita sangat mudah takut tentang pikiran atau perkataan orang terhadap kita, dan kita sangat mudah menjadi defensive.

3. Fungsi otak kita sangat tergantung pada kebiasaan

dan otak kita mencegah kelebihan informasi (overload). kebiasaan lebih sering terjadi secara otomatis, tanpa perlu susah payah mengaktifkan fungsi otak tertentu. inilah kenapa, kebiasaan lama sangat sulit diubah, dan kebiasaan yang baru, memerlukan waktu yang lama untuk dikembangkan.

4. Otak bisa berubah

untuk membuat kebiasaan baru, kita harus secara konstan dan terus menerus dalam membangun hubungan antara lingkungan dan kebiasaan, serta berlatih perilaku baru secara berulang-ulang.

5. Otak kita mengisi sesuatu yang kosong

otak kita tidak senang untuk "tidak mengetahui sesuatu", maka kita sering membuat asumsi-asumsi baru, walaupun asumsi tersebut belum tentu benar.

Membangun Teamwork

Teamwork tidak terjadi secara 'simsalabim'. teamwork harus dibentuk dan dikembangkan.

1. Aturan keterlibatan

- minta team untuk membuat peraturan bersama
- bangun budaya "kita bersama-sama" dalam situasi apa pun.
- ciptakan tujuan bersama
- lakukan evaluasi dan assessment kepada seluruh team

2. Harapan yang tinggi dengan diiringi support

- keterbukaan dan transparansi: jelaskan dengan jelas tujuan dan harapan kepada setiap masing-masing individu
- pastikan setiap orang tahu peran dan kontribusinya
- lakukan pembinaan untuk meningkatkan sosialisasi dan soft skill

3. Keamanan

- saling menghormati sesama individu
- tanam budaya keterbukaan menerima ide. "tidak ada ide bodoh, semua ide adalah tetap ide"
- dorong mental agar berani mengambil risiko
- tanamkan keyakinan bahwa kegagalan adalah momen untuk evaluasi dan belajar. ambil hikmah dari setiap kesalahan.
- berikan feedback, bukan hukuman.

4. Waktu

- jaga agar team tetap utuh
- konsistenlah terhadap peraturan dan tujuan (visi misi)
- beri ruang pada tiap individu saling membangun kepercayaan, dan mengembangkan skill
- percaya pada proses yang sedang berlangsung

sources:
- Coursera Learning Hot to Learn MOOC
- The Science Behind Better Collaboration and Student Groupings and Technology
- Team Up!

16 Mar 2016

Kenapa Dulu Partai Komunis Disuka Rakyat?

Kenapa Dulu Partai Komunis Disuka Rakyat?
Sejarah mencatat, tahun 1955 adalah tahun besar bagi Indonesia. Pada tahun tersebut pemilu pertama kalinya diadakan. Tahun itu, juga tahun besar bagi PKI. Dia mendapat posisi nomor 4, dengan perolehan 16 persen lebih suara. Suara cukup signifikan, mengingat itu adalah kali pertama pemilu.
Lalu, kita-kita yang diajarkan anti-komunis sejak dini, tentu akan bertanya “kenapa rakyat memilih komunis?”. Kita tidak bisa menjawabnya dari sudut pandang pribadi. Kita harus menenggelamkan diri kita dalam situasi revolusi saat itu.
***

Sepuluh tahun pasca proklamasi ternyata bukan hari-hari yang mudah. Sebutlah agresi militer oleh Belanda, serta pemberontakan yang merajalela (yang bahkan dilakukan juga oleh PKI tahun 1948). Perang dingin juga "memanas". Amerika dan Soviet sedang getol menanamkan kukunya di peta politik Indonesia. Berimbas terhadap kondisi ekonomi Indonesia saat itu.
Penduduk Indonesia yang saat itu sedang dilanda krisis, kemudian dihadapkan dengan dua role model negara, satu berpaham liberal ala pasar bebas, dan satu paham komunis. Masyarakat yang sedang dalam kesulitan finansial, kesulitan mendapatkan kesempatan pekerjaan, tentu akan lebih tertarik dengan paham komunis. Sebab, dalam konsep negara komunis, kekayaan negara dikelola terpusat untuk kesejahteraan merata rakyatnya. Komunisme tidak mengenal kaya dan miskin, karena mengagungkan pemerataan sosial. (intermezzo: masih ingat sila kelima?)
Kemudian, jangan lupakan bahwa Indonesia ini negara agraris. Mata pencaharian utamanya adalah petani. Sedangkan komunisme sangat menjunjung tinggi kaum proletar, yaitu buruh dan tani. Lihat saja lambangnya, berupa palu dan arit. Tidak heran, dukungan terhadap komunis pun mengalir deras dari kaum petani.
Bahkan PKI pernah menuntut agar buruh dan tani dipersenjatai. Ingat, memiliki senjata pada masa-masa revolusi berbeda dengan masa sekarang. Memiliki senjata seolah memberikan angin segar bagi mereka yang memiliki semangat revolusi.

Secara politis pun, PKI yang anti-kolonialisasi dan anti-Barat, mampu merebut hati rakyat dengan isu nasionalisasi, di antaranya dengan menentang pendudukan Irian Barat oleh Belanda.
Dan ingat juga. Masyarakat Indonesia belum banyak yang mengenyam pendidikan tinggi saat itu. Apalagi dari golongan petani dan rakyat bawah. Sehingga masih belum banyak yang memahami secara komprehensif bahwa komunisme adalah pemahaman yang anti-Tuhan. Komunisme hanya dilihat sebagai movement perjuangan, bukan sebuah ideologi yang mendasar.


***
So, jika kita meleburkan diri dalam kondisi sosial saat revolusi itu, kita setidaknya bisa memahami, kenapa PKI bisa menjadi partai hebat di masa itu. Terlepas dari kenyataan bahwa komunisme bertentangan dengan keyakinan akan ketuhanan yang dianut oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Sebab Karl-Marx sudah jelas menyatakan “agama adalah immoral”. Komunis dan agama rasanya memang sulit menyatu. Bahkan Muhammad Hatta pernah berkata “Amir Sjarifuddin terlalu beragama untuk menjadi seorang komunis).
Saya meyakini, bahwa tulisan ini tentunya sangat sensitif bagi sebagian orang. Saya pribadi cenderung untuk sulit sepakat dengan isme-isme yang ada. Saya pun bukan pakar di bidang sejarah. Namun, terlepas dari kondisi-kondisi tersebut, yang saya coba lakukan adalah pendekatan historis, atau bahkan psiko-historis (meminjam istilah Erikson dalam Young Man Luther). Maka, mari kita coba mencermatinya dengan tidak normatif.
incefurqan

14 Mar 2016

Memahami Pengukuran dalam Psikologi


Salam.
Saya membaca sebuah buku tentang metode riset psikologi, yang sangat mudah untuk dipahami. berikut hasil rangkuman/simpulan dan terjemahan bebas saya terkait pembahasan psychological measurement.

artikel bisa di download (PDF)

***


Secara umum, variabel dalam penelitian psikologi terdiri dari dua jenis, yaitu jenis aktual/konkret dan construct, atau juga biasa disebut hypothetical construct. Variabel-variabel dalam psikologi, umumnya berjenis construct.

Construct yang bersifat ‘abstrak’ tersebut kemudian didefinisikan secara umum, sehingga melahirkan definisi konseptual. Definisi konseptual merupakan sebuah definisi yang kita gunakan untuk memahami variabel/construct tersebut.

Definisi konseptual kemudian harus kita ‘jadikan konkret’, sehingga membentuk definisi operasional. Definisi operasional merupakan sebuah definisi yang kita gunakan untuk menjalani pengukuran variabel tersebut. Definisi operasional melahirkan aspek-aspek yang menyusun sebuah variabel/construct.

Sehingga, setelah memahami definisi konseptual, diasumsikan bahwa kita sudah bisa menyusun alat ukur. Item-item dalam instrumen/alat ukur tersebut, harus diusahakan berupa item yang observable dan konkret, bukan item yang multitafsir dan asumtif. Item yang menggambarkan sebuah aspek, disebut indikator. 

Pengukuran yang bisa dilakukan ada tiga jenis, yaitu self report, behavior, dan fisiologis.
Beberapa ahli terkadang menggunakan ketiga jenis pengukuran tersebut, untuk satu construct yang sama, yang disebut converging operations.


***
Source: Price, Paul. 2013. Research Methods in Psychology: Core Concepts and Skills. California State University.




12 Feb 2016

Al-Quran dan Puber Kedua

Al-Quran dan Puber Kedua


Mid-Life Crisis

istilah ini dipopulerkan oleh Elliot Jacques pada tahun 1965 dalam International Journal of Psychoanalysis. bila diterjemahkan ke dalam bahasa kita, menjadi krisis paruh baya. tapi, masyarakat kita lebih familiar menyebutnya 'puber kedua'

istilah ini awalnya digunakan untuk menandakan keadaan seseorang ketika mengalami perubahan signifikan dalam fisiknya. Berbeda dengan puber pertama (masa remaja) yang mengalami penambahan kapasitas fisik, usia paruh baya merupakan usia di mana terjadinya penurunan kapasitas fisik. Perubahan yang signifikan ini kemudian menimbulkan gejolak psikologis, sehingga dinamai krisis paruh baya.

fakta ilmiah mengenai midlife crisis ini memang masih banyak menuai perdebatan. hasil studi yang dipublikasikan Washington Post pada tahun 1999, menunjukkan bahwa hanya 25% dari subjek penelitian yang mengalami puber kedua. terlepas dari perbedaan sudut pandang yang terjadi pada kalangan scientist (silakan lihat di sini), gejala midlife crisis memang ada dan terjadi secara nyata pada beberapa orang, walaupun sangat tergantung oleh beragam faktor predisposisi bagi individu yang mengalaminya.

'Gejala' Midlife Crisis

Menurut Dr. Phil McGraw, ahli psikologi klinis APA, Midlife crisis ditandai dengan beberapa gejala, di antaranya:
  • mencari impian atau tujuan yang belum tercapai
  • penyesalan pada tujuan yang tidak tercapai
  • hasrat untuk menjadi muda kembali (di dunia barat, kecenderungan untuk operasi plastik lebih tinggi pada saat usia paruh baya, baik pada wanita, dan bahkan pria!)
  • ingin menghabiskan waktu sendiri, atau dengan peer.
  • rasa khawatir (khawatir akan kematian, sakit, tidak menarik lagi, tidak berguna lagi, dsb.)
  • kecenderungan membeli barang yang mahal dan tidak biasa
  • meningkatnya perhatian pada penampilan (menutupi kebotakan, mencat rambut beruban, atau menggunakan pakaian yang lebih terlihat muda, dsb.)
  • menjalin relationship baru, terutama dengan yang lebih muda (passionate dan intimate relationship)

Al-Quran dan Midlife Crisis


Perlu dicermati, saya bukanlah ahli tafsir. Sebab, terkadang al-Quran memuat statement yang gamblang dan eksplisit, dan tidak memerlukan penafsiran lebih jauh. sehingga apa yang saya lakukan ini sebatas penelaahan terhadap statement yang 'tersurat', bukan penafsiran pada pesan 'tersirat'.



saya menemukan sebuah tulisan menarik yang mengaitkan antara midlife crisis dengan al-Quran. Saya cukup menambahkan sedikit saja pemahaman saya terhadap ayat tersebut untuk menanggapi fenomena midlife crisis.

dalam al-Quran surat Ahqaf (46) ayat 15
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ


artinya: "Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku; dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku (dengan cara memberi kebaikan) untuk keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".

setidaknya, ada 5 point yang menjadi solusi midlife crisis dalam kandungan doa pada ayat tersebut (jika boleh, saya senang menyebut doa ini sebagai doa terhindar dari midlife crisis).

1. Bersyukur
dibanding merisaukan apa yang belum kita perolehi, kita lebih baik mensyukuri apa yang telah kita dapatkan. rasa syukur ini bisa mengatasi penyesalan yang terjadi ketika midlife crisis.

2. Berbuat kebaikan
berbuat baik memang tidak hanya diperintahkan ketika berusia paruh baya saja. tapi, ayat ini memberikan penekanan terhadap behave ini ketika usia 40 tahun: perbuatan baik ditingkatkan, agar terhindar dari perbuatan buruk yang umum terjadi ketika midlife crisis.

selain itu, perbuatan baik juga menghapus dosa perbuatan buruk, sebagaimana dijelaskan dalam surat Huud ayat 114, dan juga dalam hadist yang artinya "iringilah perbuatan burukmu dengan perbuatan baik, maka kebaikan itu akan menghapus keburukanmu" (HR. Tirmidzi No. 1978). mungkin ya, karena saat puber kedua itu rawan melakukan dosa, sehingga dianjurkan beramal saleh lebih banyak, supaya dosa tersebut terhapus".

3. Memohon kebaikan pada anak-cucu, untuk kebaikan diri sendiri (Care)
Teori Erik Erikson menjelaskan bahwa pada tahap ketujuh, yaitu usia antara 35-55 tahun, individu mengalami fase perkembangan generativitas vs stagnasi/mandeg.  Generativitas adalah perluasan cinta ke masa depan. Sifat ini adalah kepedulian terhadap generasi yang akan datang. Generativitas dapat dicerminkan dengan sikap peduli terhadap orang lain.

Jika individu gagal dalam fase ini, maka akan ditimpa rasa stagnasi (tidak peduli), bosan, dan 'miskin' interpersonal. penggambaran Erikson tentang kesulitan-kesulitan emosional tersebut, mirip dengan deskripsi Carl Jung tentang midlife crisis.

Jadi, dengan menumbuhkan rasa kepedulian terhadap generasi penerus, dapat menghindarkan individu dari midlife crisis berupa stagnasi.

4. Bertobat
Freud berpendapat bahwa pada usia paruh baya, pikiran manusia dipengaruhi oleh ketakutan terhadap kematian.

Dengan melakukan tobat, individu akan memperbaiki hubungan dengan Tuhannya, dan mulai melakukan perjalanan spiritual menuju Tuhan. jika manusia sudah mempersiapkan dirinya untuk menuju Tuhan, maka dia tidak akan khawatir atau takut terhadap kematian. justru merindui kematian. sebab, kematian adalah satu-satunya pintu untuk dia dapat menuju pertemuan kepada Tuhannya.

5. Berserah Diri
Tobat dengan kesadaran penuh atas kesalahan yang pernah dilakukan, akan membuat individu mampu berserah diri secara sempurna: tampil apa adanya di hadapan Tuhannya, percaya pada ketentuan Tuhan, dan berprasangka baik terhadap takdir yang ditetapkan Tuhan padanya. dalam tulisan terdahulu, saya menggambarkan berserah diri secara sempurna dengan kalimat "Pasrahku abadi untukMu".

Berserah diri secara sempurna, akan menghindarkan individu dari kekhawatiran yang tidak perlu dan berlebihan. termasuk kekhawatiran yang kerap muncul ketika midlife crisis.

***
tulisan ini, terutama yang berkaitan dengan al-Quran, hanya pandangan pribadi saya,  dan mutlak bukan mewakili hukum atau syariah Islam yang sama sekali bukan ranah saya.

saya berusaha sangat hati-hati ketika berbicara dengan dalil al-Quran, karena itu adalah kalam Allah. saya lebih menganggap apa yang saya lakukan adalah penelaahan berdasarkan pendapat (tafsir bi ar-ra'yi). dengan niat semoga bisa menjembatani antara sains dan religion.


Semoga bermanfaat dan mencerahkan...


Ince Furqan