Banjir di Aceh kembali menunjukkan satu hal yang sering luput dibicarakan: empati adalah fondasi solidaritas.
Richard Rorty pernah menulis, “It is not rationality but sentimentality which leads us to solidarity.” Solidaritas lahir bukan dari hitung-hitungan kebijakan, melainkan dari kemampuan melihat orang lain sebagai fellow sufferers.
Mungkin itu sebabnya respons seorang pemimpin daerah dapat membangkitkan dukungan luas. Bukan karena kebijakan yang sempurna, melainkan karena kehadiran emosional—karena penderitaan rakyat diakui sebagai penderitaan bersama.
Elite yang hidup jauh dari kerentanan sosial dan berjarak dari pengalaman krisis berisiko mengalami penyempitan empati. Bukan karena niat buruk, melainkan karena tidak pernah terlatih memandang penderitaan orang lain sebagai penderitaan sesama—fellow sufferers. Akibatnya, ketika krisis datang, penderitaan publik tidak dirasakan sebagai penderitaan bersama, tetapi direduksi menjadi persoalan teknis yang harus dikelola.
Di sinilah korelasi itu terlihat jelas: budaya HAM yang rendah berjalan beriringan dengan empati sosial yang lemah.
Hak asasi mudah menjadi formalitas ketika penderitaan tidak lagi dirasakan secara personal.
Maka mungkin, bencana yang sesungguhnya bukan hanya banjir, tetapi nirempati—ketika penderitaan manusia direduksi menjadi laporan, angka, dan prosedur.
Kalau Immanuel Kant menjelaskan mengapa kita wajib peduli; maka Rorty menjelaskan mengapa kita benar-benar peduli.