Manusia di-design luar biasa untuk beradaptasi. Bahkan sering kali, justru tekanan dari luar itulah yang mengasah mereka menjadi lebih solid, lebih terarah.
Musuh bersama (entah dalam bentuk krisis, perubahan, atau tekanan) bisa menjadi pemicu kohesi yang sebelumnya tak disadari.
Bukan karena mereka sepakat dalam segalanya. Tapi karena mereka sepakat untuk bertahan bersama.
Lewis Coser, sosiolog teori konflik, dalam bukunya The Function of Social Conflict, menuliskan:
"Conflict with outsiders tends to increase the internal cohesion of the group, to mobilize its energies and to strengthen its consciousness of its own identity."
Maka saat tantangan datang dalam sebuah komunitas kelompok, jangan buru-buru melihatnya sebagai beban. Lihat potensinya sebagai pemersatu.
Karena ini bukan tentang manusia yang bertahan. Tapi tentang mereka yang bertumbuh bersama.
