20 Oct 2023

The possibilities of automation are at your hand



Coba pikir deh, ada banyak rutinits dalam pekerjaan atau bahkan kehidupan yang bisa diback up oleh automasi.

Cukup dgn event sebagai trigger, dan selanjutnya step automation ambil alih.

Contoh simple yang saya terapkan di kehidupan,

Trigger: matikan alarm pagi.

Action: nyalakan lampu, buka gorden, matikan AC.

Trigger: "hi siri, good night"

Action: night lamp is on, alarm is set, door alarm is active, AC sleep mode. 

Kalau dalam pekerjaan, wah banyak sekali possibilities-nya karena kita seringkali terjebak dalam rutinitas administratif. 

Example,

Trigger: di database pelamar, saya jadwalkan interview dgn hanya menginput tanggal interview.

Automation: generate link interview, serta merging data lain dari database yang sudah ada, lalu mengirimkan email undangan ke kandidat. 

Atau contoh lain yang udah banyak banget pakai,

Trigger: peserta training isi post-test.

Automation: generate sertifikat of attendance nya dan kirim langsung ke email trainee.

Atau ada lagi yang lebih simple lagi,

Trigger: H-30 end of Contract karyawan

Automation: Generate kontrak yang baru, kirim email ke HR or atasan untuk review.

---

Mereka yang resistance to change bakal bilang "alah itu kan pekerjaan simple, ngetik itu paling 5 menit jadi"

Jawabannya, "justru karena simple kenapa ga diserahkan ke automasi aja? 5 menit kalau 30 processes per day, kita udah nyumbang 1/3 FTE workload"

---

Si resistance: "Tapi bikinnya kan butuh waktu?"

Me: "pay now play later, or play now pay later?"

---

Pointnya, saya cuma pengen build awareness ke orang-orang, kalau kita bisa kok bekerja dgn cara baru (yang gak baru-baru amat juga, FYI saya main beginian since 2017).

Premisnya sudah jelas: "segala sesuatu yang rutin dan berulang bisa di-automasi."

Come on, ini 2023 di luar sana udah bertaburan AI, Dan kita masih alergi dengan automasi?

Dan percaya deh, kita akan sulit berpikir yang besar, kalau kita masih terpenjara oleh hal-hal kecil.


13 Oct 2023

Time Flies: No Code Development Platform

Time Flies: No Code Development Platform

Pertengahan 2016, saya dan temen-temen lagi bantuin prodi psikologi untuk proses borang akreditasinya saat itu. Buat temen-temen yang pernah terlibat proses akreditasi, pasti tahu banyak banget dokumen yang harus disiapkan dalam rangka borang tersebut. 

Dan diantara dokumen yang dibutuhkan sebagai lampiran, banyak sekali dokumen yang kita lihat punya pola, dan hanya berbeda di detail isiannya saja. Let's say seperti surat keterangan aktif kuliah, itu kan isinya sama saja, tinggal ganti detail profil mahasiswanya saja. 

Jawabannya udah pasti: merging files. 

Tapi ternyata kebutuhan kita lebih dari itu, karena source data harus crowd source, inputan data harus secara online.

--- disinilah cerita bermula ---

Pertengahan tahun 2016, saya dan temen-temen lagi bantuin prodi psikologi untuk proses akreditasinya. Buat temen-temen yang pernah terlibat proses borang akreditasi, pasti tahu banyak banget dokumen yang harus disiapkan untuk proses tersebut. 

Untuk menyiasati itu, saya buat google script supaya dokumen sheet dan doc bisa merging secara online. Sangat useful (di zamannya) walaupun ngebuatnya lumayan rumit buat saya yang ga punya basic coding (see picture 1). Dibantuin @Wahyu Prayogo dan @Maulid Sidiq untuk check error di codenya. 

Dan hanya dalam 2 tahun kemudian, di 2018, script tersebut tidak lagi saya gunakan karena ada metode baru yang lebih mudah dan lebih reliable: pakai add-on. Kalau yang ini korban trialnya adalah @Dwi Putra.

Ternyata, ga berhenti disitu. Start tahun 2020an, adaptasi lagi dengan perkembangan baru, add-on tersebut mulai tergeser dengan adanya low code development platform (LCDP). Kata McKinsey Global Survey sih memang pandemi saat itu bikin digitalisasi berkembang 2-3 tahun lebih cepat. Saya mulai pakai Power Apps-nya Microsoft.  

Long story short, lihat timelinenya untuk insight dari cerita ini. 4 tahun aja. 

Anggap kalau seandainya gw mahasiswa, dan ketika di semester 1 belajar google script, berarti pas lulus (kalau lulusnya 4 tahun ye…) apa yang dipelajari di semester 1 itu udah obsolete dan ga mulai gak laku. 

Tapi inget ya, gw ini cuma basic user. It doesn’t mean apa yang gw sebutin itu sekarang sama sekali useless. Mungkin aja masih berguna untuk orang-orang yang yang berada di bidang spesifik lainnya. Hanya saja, buat gw yang mengutilisasi tools tersebut dalam daily basis pekerjaan as HR, shifting-nya digitalisasi ini berasa cepat banget. 

Oh ya, ini udah 2023.

Dan untuk kebutuhan saya yang sama, LCDP udah mulai terganti dengan NCDP (no code development platform). Well, harus adaptasi lagi. 


5 Nov 2021

Cara Dia Berterima Kasih

Cara Dia Berterima Kasih
Saat itu sore hari di Sukabumi. Saya sedang belajar di ruangan saya, mengejar ketertinggalan saya dalam mata kuliah Bahasa Arab. Latar belakang saya yang lulusan SMU Umum, ternyata menjadi tantangan besar untuk menempuh pendidikan Studi Bahasa Arab saat itu. Berbeda dengan teman-teman lainnya yang rata-rata jebolan aliyah atau bahkan pesantren.

Saat sedang asik mengulang pelajaran, tiba-tiba terdengar ketukan pintu, disusul suara yang memanggil dalam bahasa arab namun bernuansa logat medok jawa, yang artinya "lagi sibuk? Saya perlu P3K"

Saat itu saya memang mengemban amanah lain disamping sebagai pelajar. Mereka para petinggi sekolah tinggi tersebut, menganggap background saya sebelumnya yang pernah belajar kesehatan bisa dimanfaatkan dengan menjadi penanggung jawab Bagian Kesehatan.

Saya lalu membuka pintu. Terlihat teman yang berasal dari Tegal (ga heran bahasa arabnya berlogat medhok, hehe) tersenyum tapi sambil merintih. Dia menunjukkan jempol kakinya yang terluka akibat main bola lapangan.

Saya mencoba membersihkan lukanya, lalu melakukan tindakan yang diperlukan, dan diakhiri dengan memberikan perban pada kakinya tersebut.

Singkat cerita, beberapa pekan kemudian setelah beberapa kali ganti perban, kakinya sudah mulai sembuh, dan tibalah pada penggantian perban yang terakhir. Artinya, tidak perlu ada "kontrol" lagi.

Setelah prosesi selesai, dia pun mengucap terima kasih dengan senyum lega terukir di wajahnya, lalu keluar dari ruangan P3K itu.

Namun tak lama, tiba-tiba dia kembali lagi. Dia membawa sarung yang membulat karena ditengahnya ada terbungkus sesuatu. Kemudian, dia letakkan sarung itu di atas meja saya, lalu dengan hati-hati membukanya.

"Ini ada sesuatu dari saya, mohon maaf ga seberapa...", ucapnya sambil mengeluarkan beberapa makanan ringan yang diborongnya dari kantin kampus. Jumlahnya tidak banyak memang, tapi sangat bervariasi.

Saat itu hati saya tersentak. Saya tahu dia bukan berasal dari keluarga menengah keatas. Penampilannya sangat sederhana. Hingga bahkan kita bisa hapal baju yang dipakainya, karena sepertinya dia cuma punya 3-4 lembar baju yang dipakainya sehari-hari, namun selalu tetap tampil bersih dan rapi. Bahkan sarung yang digunakan untuk membawa cemilan itu pun, sudah terlihat lusuh dan tua.

Dia bukan orang yang kelebihan uang, tapi dia mau berkorban untuk sekedar berterima kasih.

Saya banyak belajar dari kejadian tersebut. Bahwa berterima kasih tidak perlu dalam wujud yang mahal dan ribet. Dia sangat paham kebiasaan saya yang hobby ngemil. Dan disitulah cara dia berterima kasih.

Sebenarnya, senyuman lega yang menghias wajahnya, sudahlah cukup membuat saya bahagia karena menolongnya. Tapi, dibalik kesederhanaan dan keterbatasannya secara finansial, dia tetap punya cara untuk berterima kasih.


4 Nov 2016

Jangan Salahkan Orang yang Membenci Kita

Jangan Salahkan Orang yang Membenci Kita
Kalau Anda terpilih jadi pemimpin, jangan sampai pengikut anda merasa telah salah memilih pemimpin.

Kalau Anda diangkat menjadi orang kepercayaan, jangan sampai orang yang mengangkat Anda merasa telah salah memilih orang kepercayaan.

Kalau Anda menjadi teman, jangan sampai teman Anda merasa telah salah memilih teman.

Terkadang, orang benci kita bukan karena mereka lahir sebagai pembenci.
Tapi karena perilaku kita yang memang tidak layak dicintai.

8 Sept 2016

Sentralisasi Kepemimpinan: Masih Jaman?

Sentralisasi Kepemimpinan: Masih Jaman?
Ketika sedang asyik santai, saya ditanya oleh teman tentang pendapat saya terhadap sentralisasi kepemimpinan. "Mengharuskan seluruh detail organisasi melalui jalur pemimpin", tambahnya menjelaskan kondisi yang dimaksud. Saya hanya mengernyitkan dahi, sambil berkata, "emang masih jaman?"


*Logika Sederhana*

Saya tidak perlu berpikir rumit, untuk memberikan pernyataan bahwa pemimpin model seperti itu berarti pemimpin yang tidak siap untuk membawa institusi yang dipimpinnya menjadi besar.

Ambil saja contoh sederhana. Ketika Anda belum memiliki KTP, apakah harus menghubungi Presiden RI sebagai pucuk pimpinan tertinggi di negara kita?
Ketika kita ingin mengurus beasiswa di kampus, apakah kita harus mengejar jadwal kesibukan Rektor untuk meminta persetujuannya?

Kedua contoh sederhana itu menandakan, bahwa pemimpin yang besar, dan bercita-cita besar mempercayai organisasinya. Presiden percaya bahwa SKPD terkait hingga unit terkecil dapat menyelesaikan masalah KTP tersebut. dan Rektor percaya, bahwa sistem birokrasi yang dibentuk mampu menyalurkan beasiswa secara proporsional.

Pemimpin besar tidak disibukkan oleh hal-hal kecil. Tapi dia percaya bahwa organisasinya mampu menyelesaikan hal tersebut.

*Bukti Sejarah*

Tahun 1945, Soekarno dielu-elukan oleh seluruh masyarakat Republik yang baru terbentuk ini. Tapi, siapa sangka, seiring perjalanan kepemimpinannya, Soekarno memperlihatkan gelagat sentralisasi kebesarannya sebagai pemimpin: membentuk demokrasi terpimpin, membubarkan parlemen, ingin menjadi presiden seumur hidup, membatasi dan membubarkan partai politik, mengambil alih pimpinan Angkatan Bersenjata, dan lain sebagainya. Pokoknya, dia ingin segala sesuatunya dikendalikan dari tangannya.

Hasilnya apa? Demokrasi terpimpin yang diciptakannya, justru memupuk kebencian. Tahun 1966, tokoh yang dulu begitu dicintai ini dibenci oleh nyaris seluruh rakyat saat itu. Hingga beralih pada masa orde baru.

Masa orde baru pun akhirnya lama-kelaman mulai tersentralisasi. Bermula dari UU No. 5 tahun 1974 yang mengatur tentang pemerintahan daerah dengan sangat sentralistik. Sistem pertahanan dan keamanan terpusat pada komando The Smiling General. Semua kebijakan dan peraturan daerah dikendalikan oleh pusat. Daerah hanya memiliki wewenang untuk menjalankan dan menerapkan peraturan yang sudah dibuat oleh pusat. Bahkan posisi pejabat daerah, harus mendapat restu dulu dari pemerintah pusat. Pokoknya pemerintah pusat ga mau ketinggalan untuk campur tangan urusan daerah, walau yang terpencil sekalipun.

Hasilnya apa? Tahun 1998 adalah puncak kejemuan rakyat. Tokoh yang dulu dicintai karena berhasil menumpas PKI tahun 66 itu, justru dibenci dan dihina.

See? Sejarah bangsa membuktikan, bahwa sentralistik pada pemimpin ternyata hanya mengubah cinta follower menjadi kebencian.

*Teori Kepemimpinan*

Masyarakat sekarang ini lebih cerdas, walaupun kadang kebablasan dengan dalih "kebebasan berpikir"-nya. Tapi, melihat kecenderungan zaman sekarang, orang sudah lebih kritis dan tidak lagi mau hanya dipimpin secara otoriter. Orang yang independen akan lebih senang jika diberi kepercayaan dibanding dikontrol secara terus menerus.

Lihat saja anak-anak zaman sekarang, mereka akan "berontak" kalau diasuh dengan pola otoriter. Mereka menuntut untuk diberikan kepercayaan dan independensi dalam beberapa hal. Itulah yang dikenal dengan pola authoritative yang diperkenalkan oleh Diana Baumrind (jurnal Effects of Authoritative Parental Control on Child Behavior, 1966).

Dalam hal kepemimpinan, Daniel Goleman (dalam Emotional Intelligence) menjelaskan kepemimpinan authoritative merupakan kepemimpinan yang paling berefek positif dalam lingkungan organisasi.

*Konklusi*

Akhir abad 18 saja, kepemimpinan sentralistik sudah dikritik. John Dalberg Acton mengatakan "power tends to be corrupt, but absolute power is corrupt absolutely" (kekuasaan membawa kecenderungan korupsi. Tapi kekuasaan mutlak sudah tentu sebuah korupsi).

So, di abad 21 ini masih ada orang dengan kepemimpinan sentralistik yang ingin ngatur segalanya? emang masih jaman?


--

20 Aug 2016

Mini Software Statistik

Salam

Jika sebelumnya saya menggunakan tiga mini software berbeda untuk
1. Menghitung T,R, dan F Table
2. Menghitung Mean dan SD Hipotetik
3. Membuat Kategorisasi dengan 5 kelas (ST, T, S, R, SR)

Sekarang, saya merapikan kembali mini software tersebut, dan menjadikannya dalam satu file.

So, link-link yang merujuk pada file-file sebelumnya akan expire, dan dialihkan ke file terbaru ini.

Silakan Download di sini