“Barangsiapa yang belum mampu menikah, hendaklah puasa karena puasa merupakan wijaa' (pemutus syahwat/perisai) baginya" (Muttafaqun ‘alaihi)
hadist shahih diatas, secara implisit dapat menjelaskan kepada kita, bahwa puasa yang kita lakukan, pada dasarnya menjadi perisai bagi kepribadian kita. Tapi, puasa tersebut tidak secara langsung dan dengan sendirinya menjadi perisai. Puasa, adalah sebuah proses pendidikan yang komprehensif mendidik jiwa dan raga, hingga output yang dihasilkan adalah manusia yang memiliki ‘perisai’. Buktinya, banyak kita jumpai orang-orang yang berpuasa, hanya sebatas menahan makan dan minum, tanpa memaknai dan melalui ‘proses’ pembentukan perisai tersebut. Sehingga mereka berpuasa, tapi tetap bergelimang dengan madzmumah dan akhlaq tercela mereka, baik pada saat mereka masih berpuasa, atau setelah mereka melampaui bulan suci. Inilah bukti bahwa puasa bukanlah perisai dengan sendirinya, melainkan sebuah proses pembentukan perisai. Proses tersebutlah, yang berfungsi sebagai terapi bagi diri kita.




