20 Aug 2016

Mini Software Statistik

Salam

Jika sebelumnya saya menggunakan tiga mini software berbeda untuk
1. Menghitung T,R, dan F Table
2. Menghitung Mean dan SD Hipotetik
3. Membuat Kategorisasi dengan 5 kelas (ST, T, S, R, SR)

Sekarang, saya merapikan kembali mini software tersebut, dan menjadikannya dalam satu file.

So, link-link yang merujuk pada file-file sebelumnya akan expire, dan dialihkan ke file terbaru ini.

Silakan Download di sini




14 Mar 2016

Memahami Pengukuran dalam Psikologi


Salam.
Saya membaca sebuah buku tentang metode riset psikologi, yang sangat mudah untuk dipahami. berikut hasil rangkuman/simpulan dan terjemahan bebas saya terkait pembahasan psychological measurement.

artikel bisa di download (PDF)

***


Secara umum, variabel dalam penelitian psikologi terdiri dari dua jenis, yaitu jenis aktual/konkret dan construct, atau juga biasa disebut hypothetical construct. Variabel-variabel dalam psikologi, umumnya berjenis construct.

Construct yang bersifat ‘abstrak’ tersebut kemudian didefinisikan secara umum, sehingga melahirkan definisi konseptual. Definisi konseptual merupakan sebuah definisi yang kita gunakan untuk memahami variabel/construct tersebut.

Definisi konseptual kemudian harus kita ‘jadikan konkret’, sehingga membentuk definisi operasional. Definisi operasional merupakan sebuah definisi yang kita gunakan untuk menjalani pengukuran variabel tersebut. Definisi operasional melahirkan aspek-aspek yang menyusun sebuah variabel/construct.

Sehingga, setelah memahami definisi konseptual, diasumsikan bahwa kita sudah bisa menyusun alat ukur. Item-item dalam instrumen/alat ukur tersebut, harus diusahakan berupa item yang observable dan konkret, bukan item yang multitafsir dan asumtif. Item yang menggambarkan sebuah aspek, disebut indikator. 

Pengukuran yang bisa dilakukan ada tiga jenis, yaitu self report, behavior, dan fisiologis.
Beberapa ahli terkadang menggunakan ketiga jenis pengukuran tersebut, untuk satu construct yang sama, yang disebut converging operations.


***
Source: Price, Paul. 2013. Research Methods in Psychology: Core Concepts and Skills. California State University.




10 Mar 2016

Panduan Proposal Penelitian Kuantitatif Psikologi

Salam.



Seperti biasa, saya merangkum pertanyaan-pertanyaan menjadi sebuah tulisan, agar pertanyaan tersebut bisa bermanfaat bagi yang lainnya yang membutuhkan.

Dalam kesempatan ini, saya hanya mengumpulkan catatan-catatan saya tentang membuat proposal penelitian, sambil melengkapi dengan catatan dan knowledge terbaru.

Jika ada kesalahan, atau hal yang diperdebatkan, mohon tinggalkan komentar untuk kita cari jawabannya bersama :)

best wishes...

silahkan download di sini

1 Mar 2016

Aspek, Indikator, dan Faktor dalam Penelitian Psikologi

Aspek, Indikator, dan Faktor dalam Penelitian Psikologi


Salam.

Saya menuliskan ini, karena masih banyak kesalahpahaman dalam memahami ketiga terminologi tersebut. semoga bermanfaat...


1. Aspek
‎Aspek adalah "komponen" penyusun sebuah variabel. Artinya, sebuah variabel tidak akan lengkap/sempurna tanpa adanya keseluruhan komponen tersebut. 

Saya ambil contoh sebuah rumah. Maka aspeknya adalah pintu, jendela, tembok, atap, dan lantai. Kapan pun salah satu aspek tersebut tidak terpenuhi, maka tidak sempurna rumahnya.

Contoh variabel penelitian: kemampuan berbahasa.
Kemampuan berbahasa terdiri dari 4 aspek:
writing, reading, speaking, listening.
Seseorang akan bisa dikatakan mahir berbahasa Inggris, kalau mampu memenuhi keempat aspek itu. Tapi, jika ada seseorang yang mahir reading (bisa memahami bacaan in english), writing (mampu menulis dalam bahasa inggris dgn susunan tata bahasa yang tepat), dan listening (mampu memahami percakapan verbal dalam English), tapi ngomong nya belepotan (speaking nya kacau), maka kita sebut dia bisa berbahasa Inggris, tapi tidak sempurna. Karena dia tidak bisa memenuhi semua aspek secara sempurna.

2. Indikator
Indikator adalah tanda-tanda, ciri-ciri, dan gejala-gejala dari aspek. Artinya, indikator adalah sesuatu yang harus observable (dapat diamati). Indikator inilah yang akan menjadi item dalam skala.

Indikator ini menggambarkan secara spesifik kondisi sebuah aspek. 

Saya berikan contoh:
Variabel: stress
Aspek: kognitif, fisiologis, dan psikis
Indikator: 
- kognitif: sulit konsentrasi, pikiran kacau, dsb
- fisiologis: berdebar, napas tidak teratur, dsb
- psikis: galau, gelisah, dsb

3. Faktor
Faktor adalah hal-hal di luar variabel yang akan kita ukur, yang memengaruhi (menghambat, atau mendukung) variabel yang akan kita ukur tersebut.
Faktor bukanlah suatu hal yang menggambarkan variabel kita, tapi justru hal-hal yang akan memengaruhi variabel kita. 


4. Dimensi
Kita diajarkan bahwa dimensi sama dengan aspek. Tapi, yang saya pahami dari literatur teranyar dalam pengukuran psikologis, kedua hal tersebut berbeda. Saya masih belum memahami definisi "dimensi" secara baik. Tapi, definisi konsepsionalnya, dimensi adalah intensitas dan frekuensi dari sebuah indikator. 
Nah, karena saya juga belum paham, sementara kita skip penjelasan istilah dimensi deh ya :D hehehehe.

Kalau ada yang sudah paham, boleh tolong ajari saya please :)

dalam waktu dekat, saya akan posting mengenai pengukuran dalam psikologi. insya Allah



Best wishes...


source:
1. Price, Paul. Research Methods in Psychology: Core Concepts and Skills.
2. Michael, Robert. Measurement: Strategies for Educational Inquiry. Indiana University Bloomington (gunakan materi ini untuk memahami buku nomor 1)
3. Santoso, Agung. Statistik Psikologi. Sanata Darma (gunakan buku ini untuk menemukan terjemahan padanan kata yang tepat dari file nomor 2)
4. juga ada cukup lengkap di Weiner, Irving B. Handbook of Psychology: Research Methods in Psychology. Wiley Publisher. (kalau ga salah, buku ini ada di perpustakaan prodi)

16 Jan 2016

Uji T-Test atau Anova? (Psikologi Eksperimen)

Saya tertarik menulis ini, karena kemarin banyak kisruh tentang penggunaan uji hipotesis ini. teman-teman yang sedang mengerjakan psikologi eksperimen saling berbeda pendapat. sebagian menggunakan t-test, dan sebagian menggunakan anova.

singkat saja, berdasarkan apa yang saya pelajari, saya lebih cenderung menggunakan t-test, berdasarkan asumsi berikut:

Jumlah Kelompok Data

t-test digunakan untuk 2 kelompok data. sedangkan anova digunakan untuk 3 kelompok data. dalam eksperimen, kita umumnya menggunakan 2 kelompok data, yaitu post-test dan pre-test

Pasangan Data

anova digunakan untuk data yang independent (tidak berpasangan), sedangkan t-test menggunakan data yang berpasangan. 

lihat contoh tabel berikut


tabel diatas adalah contoh kelompok data yang berpasangan. artinya, saya memiliki dua kelompok data yang akan saya hitung (di-compare), tapi kedua kelompok data tersebut berasal dari subjek yang sama. masing-masing subjek memiliki dua data. 

untuk penghitungan dengan jenis pasangan data seperti diatas, maka gunakanlah paired t-test.

bandingkan dengan tabel di bawah ini,


pada tabel tersebut, saya memiliki 3 kelompok data. tapi ketiga kelompok data tersebut saya peroleh dari subjek yang berbeda-beda. maka data seperti inilah yang cocok saya hitung menggunakan anova.

Konklusi

jika ditanya kenapa harus menggunakan t-test ketimbang anova, cukup jelaskan saja: anova hanya boleh dihitung untuk data yang tidak berpasangan. maka itu sudah cukup mengcounter pendapat yang membolehkan perhitungan anova untuk jenis data dalam psikologi eksperimen.

semoga bermanfaat...

Source: Seri Evidence Based Medicine (Statistik untuk Kedokteran).

21 Dec 2015

Percaya Angka, atau Kategori?

Percaya Angka, atau Kategori?


Sebenarnya, diskusi tentang ini sudah pernah terjadi beberapa bulan yang lalu, ketika teman-teman membahas tentang psikometri. tapi, saya tergelitik untuk menuliskan ttg ini, karena tadi pagi sepertinya ada perbedaan paham.

so, ini bermula dari pertanyaan di diskusi experiment tadi:
"ketika saya melakukan penelitian, saya melihat angkanya, atau kategori dari angka tersebut?"

kalau diterjemahkan dalam bahasa statistik, "saya melihat numerik (rasio/ interval), atau melihat kategori ordinalnya?"

saya sebenarnya menginginkan referensi yang lebih banyak untuk menjawab pertanyaan tersebut. tapi untuk kali ini, saya menjawab dengan common sense saja.

saya memberikan analogi: ada dua orang mahasiswa. si A dan si B. si A berusaha ikut mata kuliah statistik, namun dia mendapatkan nilai 59, sehingga tidak lulus. sedangkan si B, sejak awal kuliah dia udah ga pernah masuk, sehingga mendapat nilai 0.

keduanya masuk dalam kategori 'tidak lulus'. tapi, apakah keduanya memang sama? tentu tidak. A sudah berusaha, sedangkan B tidak niat kuliah. jika kita menggunakan kategori, kita bisa bias dan menyamakan antara A dan B.

analogi lainnya, jika si C adalah mahasiswa yang dapat nilai 80, dan si D dapat nilai 100. keduanya masuk dalam kategori nilai A (>79, bobot 4). lalu, walaupun di KHS mereka sama-sama nilainya A, apakah kita juga menyamakan tingkat pemahaman mereka? tentu tidak. yang dapat nilai 100 tentu lebih paham dibanding yang dapat nilai 80. kecuali kalau dia nyontek.

---

so, menurut saya, ini cukup penting. menurut saya, kita tidak bisa selalu menyamakan dan mengeneralisasi individu berdasarkan satu kriteria tertentu. sebab saya sangat menghargai individual differencies.

mungkin, mind-set 'kategorisasi' itu juga yang menjadikan budaya kita selalu mengelompokkan orang sehingga terbentuk stratifikasi dan struktur sosial. entahlah, perlu kajian lebih lanjut tentang itu.

yang jelas, kalau ditanya "percaya angka atau kategori?", saya dengan lantang menjawab "percaya angka, karena angka tidak pernah berbohong".