Perjalanan malam hari membuat jarak pandang keluar jendela menjadi terbatas. Ditambah lagi rasa lelah perjalanan, membuat pilihan yang paling tepat ketika berada di dalam bus saat itu adalah tidur. Reclining seat dan AC yang dingin serta bantal yang disediakan, membuat keinginan untuk tidur tidak sulit ditawar lagi.
Pagi harinya, saya pun mulai mengamati jalan-jalan gunung dan berliku. Pada saat itu, bus sudah memasuki kabupaten Mamuju. Disaat itulah, saya bertanya-tanya dengan penasaran, seperti apa sosok dan suasana ibukota dari salah satu propinsi baru hasil pemekaran. Saat meeting point yang telah diberitahukan sebelumnya sudah mulai terlihat, bus pun saya berhentikan. Pintu terbuka, angin hangat segera menerpa wajah. Petualangan baru pun dimulai.
Diantara banyak hal yang dilakukan disana, yang paling berkesan adalah ketika melakukan perjalanan ke Kabupaten Mamasa. Itulah yang mendasari dan mendorong saya untuk menulis tulisan ini. Kabupaten Mamasa ditempuh dengan jalan darat selama 12 jam. Perjalanan dimulai malam hari ke arah selatan, dihentikan di Kabupaten Polewali-Mandar untuk beristirahat malam, dan dilanjutkan pada pagi hari. Kabupaten Mamasa yang dituju ini terletak diatas pegunungan yang terlihat dari Polewali. Ketika sampai di Polewali, salah seorang teman saya berkata, “gunung itu yang akan kita daki, itu destinasi kita....”
Dalam perjalanan mendaki, banyak ditemui rumah-rumah sederhana. Rumah yang seluruhnya terbuat dari kayu tersebut, hanya berukuran 3x4m, tidak lebih dari ukuran kamar kos saya di samarinda. Di tengah dinding rumah, dari luar terlihat ada lubang berukuran sekitar 30 cm dengan lebar 5 cm, yang sepertinya disengaja untuk difungsikan sebagai jendela. Rumah-rumah yang sedikit tinggi dari tanah tersebut, terletak di kampung-kampung yang sporadis. Jarak antara satu kampung dengan kampung lain relatif berjauhan, hingga 5 sampai 10 kilo antara satu kampung dengan kampung lainnya. Perkampungan-perkampungan itu sporadis, karena memang jalan penghubung antar kampung tersebut adalah jalan-jalan yang bertepikan jurang dalam. Dan disinilah timbul perasaan yang begitu mengganggu, sehingga dirasa perlu untuk di-sharing-¬kan disini.
Di tengah jalan, saya menemukan sebuah sekolah, yang secara kondisi fisik saya nilai jauh dari sempurna, bahkan jauh dari ideal. Bangunan yang sudah tua, reot dinding dan plafonnya, cat pudar, serta pagar berkarat. Melihat kondisi fisik bangunan, rasanya sulit untuk membayangkan bagaimana kelengkapan fasilitas di sekolah tersebut. Jangankan peralatan laboratorium, jaringan internet, dan lainnya, bangku-bangku pun seperti sudah tidak layak pakai. Papan tulis kapur terkelupas disisi-sisinya. Saya rasa, sekolah terjelek di Jakarta pun, masih lebih bagus dibanding sekolah ini.
Pada saat itu, sudah jam 2 siang, sehingga saya tidak temukan satupun siswa disana. Tapi, selepas kami tinggalkan sekolah tersebut, di tengah jalan di perkampungan, saya temukan sekelompok anak dengan pakaian lusuh, berjalan kaki, beralaskan sandal jepit. Mereka berseragam putih merah. Setelah melewati kampung tersebut, saya ternyata kembali menemukan sekelompok anak yang berpenampilan tidak berbeda, di tengah jalan tepian jurang. Tidak ada rumah didaerah tersebut. Tidak mungkin mereka tinggal dihutan. Itu berarti, mereka sedang menuju perkampungan tetangga, yang berjarak sekitar 5-10 km melalui jalan berliku. Perjuangan mereka membuat saya tercengang. Sesulit itukah mereka ingin meningkatkan taraf pendidikan diri?
Perjalanan terus saya lanjutkan, terus mendaki. Saya kembali bertemu dengan perkampungan kecil lagi. Di perkampungan ini, pemandangan tidak jauh berbeda dengan kampung sebelumnya. Ditambah dengan keberadaan anak-anak kecil yang bermain, masih dengan celana seragam sekolah mereka. Belum hilang ketakjuban saya terhadap pemandangan yang saya lihat langsung di jalan tepi jurang sebelum perkampungan ini, saya lebih dikagetkan lagi oleh pemandangan berikutnya. Sebab, setelah lepas dari areal perkampungan ini, kembali menapaki jalan berliku, menanjak, dengan jurang di sisi kanan, tebing di sisi kiri, saya lagi-lagi menemukan sekelompok anak, kali ini ada yang berseragam putih-merah dan ada putih-biru. Subhanallah, mereka telah melewati satu kampung yang berjarak 10 km dari sekolah, dan pertemuan dengan mereka di jalan jurang ini, menandakan bahwa mereka akan menuju kampung berikutnya lagi, yang berjarak kurang lebih sama.
Apakah tidak ada solusi lain bagi mereka, untuk memperpendek langkah, mempermudah dan meringankan perjuangan mereka?
Mereka menghabiskan hari-hari mereka dengan perjalanan sejauh 10-20 km berjalan kaki, untuk tujuan tertentu. Sebuah tujuan, yang kita semua pun pernah lakukan, sebagai tahapan wajib belajar. Tapi, kita hidup di dunia yang berbeda. Alhamdulillah, Allah menakdirkan saya untuk menghabiskan TK hingga SMU di Jakarta, dengan segala kelengkapan dan fasilitasnya. Saya tidak membayangkan apabila saya ada di posisi mereka. Wong, dengan antar-jemput saja saya sering terlambat. Nostalgia masa-masa saya sekolah, menimbulkan satu pertanyaan, “apakah mereka bahagia dengan segala perjuangan mereka ini?”
Senyuman yang mereka berikan ketika saya membuka kaca mobil, agaknya memberikan jawaban pasti. Mereka tetap bahagia. Saya kembali berpikir, bahwa nyatanya, kebahagiaan bukanlah pada banyaknya fasilitas yang ktia dapati. Mungkin saja, mereka justru tidak berbahagia ketika hidup di kota besar dengan segala kebisingannya. Sebagaimana saya tidak bahagia ketika harus berjuang sesulit itu “demi” ilmu. Mungkin, mereka justru bermalasan bila harus diantar-jemput setiap hari. Saya yakin, saya dan dia, pastinya punya persepsi dan porsi kebahagaiaan masing-masing. Dan Allah juga telah menetapkan porsi perjuangan bagi masing-masing orang.
Syukur, itulah yang saya lakukan saat itu, detik itu. Saya tidak perlu berjalan di bawah matahari dengan jarak belasan kilo. Saya pun mendapatkan sekolah dengan perlengkapan dan fasilitas yang ideal dan lengkap. Saya terlahir dari orang tua yang cukup mampu untuk menyekolahkan saya di tempat yang baik, serta melengkapi perlengkapan sekolah saya dengan baik. Saya, mungkin dikategorikan beruntung, bila mengikut kacamata materi dan fasilitas. Tapi, bila melihat dengan kacamata semangat dan mentalitas, mereka jauh lebih beruntung dari kita. Karena keadaan telah mendidik mental mereka, untuk rela berjuang sekuat itu, demi tujuan yang pasti.
Mereka berjuang menuntut ilmu, demi harapan mereka. Karena harapan bukan cuma milik anda yang berfasilitas lengkap. Harapan adalah milik kita semua. Mereka juga memiliki harapan.