
Aku malu pada Tuhan,
Karena selalu saja melupakanNya
Apabila diri ini dalam kesenangan
Tetapi kemudian merintih
Dan mengadu padaNya
Bila tertimpa masalah
Allah itu Rafiqul A'la
Kawan kita yang Tertinggi
Tetapi, mengapa kita hanya membagi kesusahan?
Kesenangan dan kesusahan
memang Allah yang jadikan
Hanya saja, kemana kita bila sedang senang?
Apakah kita membawa Allah turut serta dalam hati?
Allah hanya kita sebut, apabila sedang berkeluh
Apabila kesulitan mendera, dan masalah menimpa
Apabila Allah beri senang,
kita tetap lalai dan cuai
tanpa syukur pula yang semestinya
hanya terima kasih sekedarnya
Tapi, apabila Allah kena uji diri,
resah hati, keluh kesah setiap hari
seolah-olah tiada salah dalam diri
seolah merasa suci
seraya berkata dalam hati,
"Tuhan, kenapa Kau berbuat begini?"
Sungguh aku malu
Nikmat Allah amat banyak pada diriku
dibanding dengan kesulitan dan ujian yang ia beri
tapi...
keluhanku lebih banyak daripada syukurku...