banget pas masa koloni Inggris di Amerika, teh pernah dianggap komoditas strategis sehingga Inggris ingin mengontrol penuh perdagangannya lewat perusahaan yang ditunjuk negara. Supaya pasar gelap mati, undang-undang dibuat agar jalur distribusi dipotong, membuat harga jualnya jatuh menjadi jauh lebih murah.
Tapi, koloni Amerika tetap menolak. Masalahnya bukan karena tidak suka barang murah, melainkan karena di balik harga miring tersebut ada isu legitimasi dan pengakuan pajak tanpa keterwakilan di parlemen (No taxation without representation).
Hari ini, ada yang mirip. Ketika ada lembaga baru yang disiapkan negara untuk mengonsolidasikan aset dan mengatur komoditas strategis, konsep dan efisiensi di atas kertas tentu terdengar menjanjikan.
Namun, efisiensi harga dan tata kelola baru akan selalu diuji oleh sejarah panjang good governance di sektor publik. Wajar jika sebagian publik tetap kritis dan berhati-hati. Sama seperti warga koloni Amerika yang memilih menolak teh murah, karena mereka yakin harga kedaulatan jauh lebih mahal.
Sebab pada akhirnya, ini bukan sekadar tentang seberapa efisien sebuah komoditas diatur. Tapi tentang seberapa besar kepercayaan publik bisa dipertanggungjawabkan.
