19 Aug 2013

Pahlawan yang Merdeka

Bertepatan dengan hari kemerdekaan kemarin, di TV One saya melihat cuplikan tentang tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Saya memang tidak begitu fokus menonton seluruh rangkaian acara tersebut. Tapi, walaupun hanya menyaksikan fakta-fakta tentang perjuangan seorang Muhammad Hatta, saya mendapatkan sebuah insight yang sangat memilukan.

Kita dapat melihat, bahwa tokoh-tokoh yang berjasa saat itu, mereka berjuang dan berkorban, tidak hanya melawan pressure eksternal, tapi juga melawan pressure-pressure internal: hawa nafsu mereka sendiri.

Contohnya, seperti kisah Muhammad Hatta, seorang wakil presiden, yang hanya mampu mengkliping iklan sepatu idamannya, dari lembaran koran, yang kemudian dia selipkan di lembaran buku hariannya. Padahal, dia menjabat sebagai orang nomor dua di negeri ini. Bayangkan, jika sepasang sepatu saja, hanya mampu dalam bentuk kliping koran, bagaimana dgn benda-benda lainnya, terutama benda-benda yang lebih mahal?

Lalu, kemirisan hati akan melanda, jika kita membandingkan perjuangan orang-orang terdahulu dengan para pemangku kekuasaan sekarang. Jika dulu, seorang Muhammad Hatta yang memperjuangkan kemerdekaan, dan hidup dalam kebersahajaan, maka saat ini seolah-olah para pejabat eksekutif justru memanfaatkan status pejabat negara, demi memperkaya diri. Pejabat yang sok berjuang, padahal mereka hipokrit.

Saya hanya terfikir, seandainya para pemuda sekarang, mengetahui kesulitan perjuangan para pendiri bangsa ini, seharusnya ketika mereka menjadi penerus kekuasaan ini, mereka akan mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan dengan susah payah, dengan hal-hal yang semestinya.

Kita harus bersyukur, karena kita hidup dalam keadaan merdeka. Dan perlu kita sadari bahwa meneruskan perjuangan memang bukan pekerjaan yang mudah. Tapi, setidaknya, kalau kita mengenang kesusahan orang-orang yang memperjuangkan kemerdekaan ini, maka seharusnya kita sadar, bahwa beban kita tidak sesulit mereka.

"Lihatlah kepada orang yang lebih rendah daripada kalian dan jangan melihat orang yang lebih diatas kalian. Yang demikian itu, akan membuat kalian tidak meremehkan Nikmat Allah yang diberikan kepada kalian" (HR. Muslim)

Saatnya bercermin, apakah kita sudah mampu seperti mereka. Para pahlawan itu bukan sebatas pahlawan kemerderkaan, namun juga pahlawan yang merdeka. Mereka merdeka dalam diri dan jiwa mereka walaupun dalam keadaan terjajah. Mereka merdeka sejati: merdeka dari perjuangan yang palsu.










Sent from my BlackBerry®



















Previous Post
Next Post