8 Aug 2013

Menata Ulang Cinta


Beberapa hari yang lalu, saya meng-update sebuah status di jejaring sosial, yang mengutip sebuah untaian hikmah dari seorang Leo Tolstoy:
"When You love someone, you love the person as they are, and not as you'd like them to be"
Ternyata, ada beberapa yang mengomentari dgn anggapan unik: bahwa saya sdh mulai update status cinta-cintaan. Hehehe, mungkin selama ini, image saya memang orang yg tidak pernah punya rasa cinta ya?

Entahlah, tapi yang pasti, ungkapan seorang pengarang novel 'Anna Karenina' tersebut, membekas di hati saya. Tapi bagi sebagian orang, ternyata kata-kata tersebut terkesan hanya diarahkan kepada pasangan mereka saja.

Ternyata, banyak orang yang terkesan mempersempit makna 'cinta' (termasuk saya yang dulu). Mungkin juga, itulah sebabnya orang-orang tiba-tiba kaget karena saya mempost status tentang cinta. Jika saya memang termasuk orang-orang yang mempersempit makna cinta, ya silahkan anda kaget. Karena, sampai detik ini saya masih single (dan itu prinsip, *smile). Dan tentunya kata-kata cinta di jejaring sosial bisa menimbulkan tanda tanya.

Tapi, jika anda tahu bahwa saya adalah orang yang memiliki konsep 'universalitas cinta', maka tidak perlu heran atas status cinta-cintaan saya.
Ya, saya pikir, sebenarnya cinta itu, hal yang universal, konsep bahasa yg universal. Ke orang tua, teman, sahabat, pasangan, saudara, pasti ada cinta. Hanya saja, manifestasinya saja yg berbeda. Tetapi, semua itu tetap suatu wujud yang sama: cinta.

Kita tidak perlu lagi mengaburkan makna cinta, dengan menganggap kata 'cinta' hanya ada pada hubungan berpasangan saja. Sehingga akhirnya muncullah budaya malu dalam memverbalisasikan cinta, hanya karena stigma tersebut.

Jika kita masih berpikiran seperti itu, maka kemana 'jatah cinta' utk Ayah dan Ibu kita? Untuk saudara dan sahabat kita? Apakah salah ketika saya menyatakan cinta kepada orang tua saya? Apakah masih perlu rasa malu untuk menyatakan cinta kepada orang tua kita? Atau kepada orang-orang terdekat saya?

Padahal, ketika saya mengatakan 'aku mencintaimu Ibu', anda tentu tidak bisa samakan dengan kecintaan seseorang pada pasangannya.

Sebab, di semuanya ada cinta. Ibu, Ayah, saudara/i, pasangan, sahabat, bahkan pada Tuhan, semuanya ada cinta. Tapi berbeda bentuk dan formulanya. Perbedaan yang hanya sebatas manifestasi tersebut, jangan sampai menjadikan enggan utk mengakui atau bahkan mengungkapkan rasa cinta.

Sudah cukup selama ini kita kekeringan cinta karena kesalahan kita dalam menafsirkannya. Sudah cukup letih hati ini dikelabui dengan kekeliruan menahan hak-hak cinta. Sudah cukup terkuras jiwa ini, karena kekosongan cinta, akibat kita mempersempit aliran derasnya cinta dari yang seharusnya. Sudahi rasa enggan dan malu, untuk mencintai orang-orang yang memang patut dan berhak kita cintai.

Sudah waktunya bagi kita, untuk mulai lagi menata ulang cinta.

Saya pun menuliskan ini, karena kepedulian saya mencintai anda semua.



Sent from my BlackBerry® smartphone
Previous Post
Next Post