"Wherever Law Ends, Tyranny Begins",
Begitulah bunyi kutipan dalam sebuah buku, Two Treatises
of Civil Government, yang ditulis oleh John Locke, seorang filsuf. Ada sebuah
penggambaran menarik dalam buku tersebut, yaitu mengenai terbentuknya sebuah Negara.
Secara singkat, Locke berpendapat bahwa masyarakat yang plural dan rawan dengan
peperangan, pada akhirnya sepakat untuk membentuk sebuah institusi tertinggi
yang dapat mengatur mereka sendiri: sebuah Negara.
Artinya, pada dasarnya masyarakat ‘seharusnya’ percaya
kepada Negara, dalam hal peraturan dan keteraturan, yang dahulu mereka bentuk
demi kelangsungan hidup masyarakat itu sendiri.
Namun, apa yang sedang terjadi di negeri kita saat ini
justru sangat lucu: pelaksanaan UN yang diselenggarakan oleh Negara, justru
menjadi berantakan. Sebelumnya, kita telah melalui perdebatan panjang
mengkritisi urgensi pelaksanaan UN sebagai indikator utama kelulusan siswa. Beberapa
pihak tidak setuju bahwa UN dijadikan indikator utama kelulusan siswa. Namun pemerintah
Negara pada akhirnya memutuskan bahwa UN harus tetap dilaksanakan, dengan
berbagai penyesuaian dan perubahan. Dipertahankannya ‘ritual’ UN, menjadi
gambaran bahwa pihak pemerintah tetap menganggap UN sebagai sebuah prosesi yang
penting bagi kelangsungan dunia pendidikan Indonesia. Tapi, kenapa justru pada
pelaksanaannya menjadi kekacauan dimana-mana?
UN yang seharusnya menjadi indikator kelulusan para siswa
menengah atas, justru berbalik menjadi indikator kegagalan Negara sebagai
institusi yang dipercaya dalam penyelenggara UN tersebut. Kejadian ini seolah-olah
mempertegas ketidakbecusan pemerintah dalam penyelanggaran UN, yang menyangkut
masa depan jutaan generasi penerus, yang diadakan ‘cuma’ setahun sekali saja!
Kejadian ini, mempertebal stigma kegagalan pendidikan di Negara
kita. Timbul kesan ketidakseriusan Negara dalam mengurusi pendidikan. Bandingkan
saja, sebuah konser musisi ternama, yang tidak berkaitan dengan hajat orang
banyak, yang tidak berhubungan dengan kemajuan suatu Negara, bisa dilaksanakan dengan
lancar bila tiap komponen penyelenggaranya serius menggarapnya. Kenapa UN yang digadang-gadangkan
menjadi penentu masa depan para siswa, terkendala dengan permasalahan teknis
yang seharusnya bisa diantisipasi? Bukankah itu berarti ada problem dengan
keseriusan para penyelenggaranya?
----
Harapan Awal
Saya masih ingat, di tahun saya lulus Sekolah Menengah Atas,
merupakan awal mula diberlakukannya standar nilai kelulusan. Protes pun
bermunculan. Para siswa yang terancam tidak lulus, juga menyuarakan ancaman pengrusakan
gedung dan fasilitas sekolah, jika mereka harus mengulangi ujian di tahun
berikutnya. Namun, ditengah polemik tersebut, ada sebuah kalimat optimisme yang
dilontarkan oleh para praktisi pendidikan saat itu,
“lebih baik sekolah hancur, karena bisa dibangun lagi. Daripada masyarakat kita hancur karena kualitas pemudanya yang rendah. Maka kita akan sulit membangun Negara ini”
Saya pikir, harapan itulah, yang mendasari diperketatnya
sebuah penyelenggaran ujian nasional. Namun sayang sekali, kabar mengenai pihak
sekolah yang memanipulasi (mark-up) nilai para peserta ujian demi
menjaga citra kualitas sekolah, malah mencoreng niatan mulia tersebut. Ini menjadi
satu tambahan indikator kegagalan pendidikan.
Terlebih lagi, kasus-kasus bunuh diri para siswa yang tidak
lulus UN, juga menandakan degradasi kualitas dan mutu pendidikan kita. Hal ini
mudah saja disimpulkan: bunuh diri bukanlah sikap orang yang terdidik. Jika ada
siswa yang tewas bunuh diri, jangan mutlak salahkan dia. Salahkan juga para
pendidiknya yang tidak becus memberi motivasi, pencerahan, dan pemahaman yang
benar, bahwa UN bukanlah segalanya, tidak lulus UN bukanlah alasan untuk
mengakhiri hidup. Seharusnya pendidik bertanggung jawab dan introspeksi, bahwa ternyata
mereka tidak berhasil membentuk sosok yang educated.
Kenyataannya memang, alih-alih memotivasi dan memberikan
arah yang benar, guru-guru lebih banyak menakut-nakuti seakan-akan masa depan siswa
akan ‘runtuh’ dan ‘suram’ jika tidak lulus UN. Padahal, mari kita coba tantang
guru bahasa Inggris untuk mengerjakan soal UN, apakah dia mampu lulus di Mata
Pelajaran Matematika? Tantang guru matematika, apakah dia bisa lulus di Bahasa
Inggris? Jika tidak, sediakan sebuah tali, pisau, atau cairan anti-serangga
dihadapannya.
----
Sekarang, sebuah pertanyaan besar menggantung dipemikiran kita,
“apakah kita masih perlu percaya terhadap Negara?” Entahlah. Namun, teringat
sebuah kata mutiara melayu lama, “jangan karena kebaikan sedikit, hilang
seluruh keburukannya. Dan jangan karena kesalahan sedikit, hilang seluruh
kebaikannya”.
Lagipun, pastinya kita tetap memerlukan sebuah institusi
tertinggi yang mengatur kompleksitas kehidupan kita. Sebab, saya khawatir, Wherever
Law Ends, Tyranny Begins.