19 Oct 2012

Sebuah Perbedaan

Suatu waktu, anda tentu pernah melihat orang asing yang melintas di depan anda, atau justru anda melintas di depannya. Ketika melihat orang asing tersebut, anda tentu berpikir tentang ‘dari mana mereka berasal?’. Ketika manusia tidak memiliki wawasan tentang dunia luar, biasanya dilanjutkan dengan membuat klasifikasi ciri: kalau hitam dan kriting, dari afrika; kalau putih dan pirang, dari amerika atau eropa; kalau putih mancung tapi berambut hitam, dibilang ‘orang arab’.

Saya pun ketika masih kecil, juga seperti itu. Selalu membuat klasifikasi yang amat standar. Namun, ketika saya menempuh studi di bidang bahasa arab, baru saya mengenali secara langsung, bahwa ada perbedaan antara aksen arab saudi, dengan yaman. Ada perbedaan aksen bahkan bahasa dan kosakata antara mesir atau arab afrika, dengan arab teluk. Hingga bahkan ada perbedaan bentuk muka yang sebenarnya mudah diketahui ketika kita sudah mulai ‘mengenal lebih detail’.

Ternyata, ada analogi yang lebih mudah untuk memahami itu semua. Hal ini bermula ketika saya menjadi penterjemah untuk seseorang yang berasal dari mesir, ketika mengurus studinya di Indonesia. Dia menjelaskan bahwa ketika diawal berinteraksi dengan orang indonesia, dia menganggap semua aksen sama. Dia tidak mengerti mana bahasa indonesia yang ‘medhok’. Atau bahkan yang sulit menyebut ‘R’. Hingga pada bahasa ‘4LaY’. Dia tidak mampu membedakan antara semua bahasa tersebut. Dia mengklasifikasikannya menjadi satu kesatuan utuh: bahasa indonesia.


Kemudian saya pun berpikir, bahwa ternyata, ketika orang tersebut belum mengenali kita secara detail dan mendalam, dia akan menganggap kita sebagai satu kesatuan. Orang yang tidak tahu tentang indonesia, akan menganggap bahwa seluruh orang indonesia itu sama: ramah, murah senyum, dsb. Ketika dia mulai mengetahui diversitas penduduk indonesia, dia tahu ada sumatra, jawa, kalimantan, borneo, papua, dan lainnya. Tapi, dia masih punya anggapan bahwa seluruh orang di pulau jawa itu sama. Bahkan, beberapa orang di daerah pedalaman sulawesi juga memiliki anggapan seperti itu. Klasifikasi yang unik bahkan menyebut ‘sunda’ untuk jawa barat secara general; sebutan ‘jawa’ untuk jawa tengah; dan sebutan ‘surabaya’ untuk jawa timur. Contoh lagi, ketika kita tidak tahu bagaimana itu negeri barat, kita akan menganggap bahwa bahasa inggris itu semua sama, apakah itu british, american dengan logat texas khas koboi, atau logat harlem khas afro-american.

Kenapa saya mengangkat permasalahan ini? Sebab, beberapa hari yang lalu saya ditanya dalam sebuah diskusi santai, mengenai perpisahan yang disebabkan oleh perbedaan.

Seluruh pengantar diatas, hanya sebuah pembuka, yang mengarahkan kita semua kepada satu opini, yaitu bahwa ternyata persepsi perbedaan itu hanya timbul ketika kita semakin mengenal sesuatu hal secara detail dan mendalam. Jadi, ketika anda menemukan perbedaan terhadap seseorang, bukankah itu karena anda berarti telah mengenalnya secara lebih dekat dan lebih detail?

Anda tidak akan peduli terhadap perbedaan ataupun persamaan terhadap sesuatu hal yang baru anda kenal. Semakin anda mengenal seseorang, maka semakin besar peluang anda menemukan perbedaan yang ada. 

Oleh karena itu, ketika anda menyesali sebuah perbedaan yang terjadi, harusnya kita bersyukur, karena itu artinya bahwa kita mengenal dia secara lebih dekat.

Ketika kemudian mengatakan bahwa ‘kami berpisah karena ada perbedaan’, bukankah semua manusia itu memang berbeda? Kalau perbedaan adalah alasan untuk berpisah dan berselisih, berarti tidak mungkin ada persatuan. Sebab, semua manusia itu berbeda.

So, kesimpulannya, saya menutup dengan dua point:
1.      1.  Perbedaan itu sudah pasti ada. Tidak mungkin kita meyalahkan perbedaan. Karena hal itu memang pasti ada. Hal yang bisa kita koreksi adalah cara kita menyikapi perbedaan
2.       2. Mengetahui suatu perbedaan, adalah suatu anugrah. Karena itu menjadi indikator bahwa anda mengenal hal tersebut dengan lebih dekat. Kalau anda tidak ingin merasa berbeda dengan suatu hal: maka jangan kenal hal tersebut!

Maka, nikmatilah sebuah perbedaan...
Previous Post
Next Post