Suatu waktu, anda tentu pernah melihat orang asing yang
melintas di depan anda, atau justru anda melintas di depannya. Ketika melihat
orang asing tersebut, anda tentu berpikir tentang ‘dari mana mereka berasal?’.
Ketika manusia tidak memiliki wawasan tentang dunia luar, biasanya dilanjutkan
dengan membuat klasifikasi ciri: kalau hitam dan kriting, dari afrika; kalau
putih dan pirang, dari amerika atau eropa; kalau putih mancung tapi berambut
hitam, dibilang ‘orang arab’.
Saya pun ketika masih kecil, juga seperti itu. Selalu
membuat klasifikasi yang amat standar. Namun, ketika saya menempuh studi di
bidang bahasa arab, baru saya mengenali secara langsung, bahwa ada perbedaan
antara aksen arab saudi, dengan yaman. Ada perbedaan aksen bahkan bahasa dan
kosakata antara mesir atau arab afrika, dengan arab teluk. Hingga bahkan ada
perbedaan bentuk muka yang sebenarnya mudah diketahui ketika kita sudah mulai
‘mengenal lebih detail’.
Ternyata, ada analogi yang lebih mudah untuk memahami itu
semua. Hal ini bermula ketika saya menjadi penterjemah untuk seseorang yang
berasal dari mesir, ketika mengurus studinya di Indonesia. Dia menjelaskan
bahwa ketika diawal berinteraksi dengan orang indonesia, dia menganggap semua
aksen sama. Dia tidak mengerti mana bahasa indonesia yang ‘medhok’. Atau bahkan
yang sulit menyebut ‘R’. Hingga pada bahasa ‘4LaY’. Dia tidak mampu membedakan
antara semua bahasa tersebut. Dia mengklasifikasikannya menjadi satu kesatuan
utuh: bahasa indonesia.
Kemudian saya pun berpikir, bahwa ternyata, ketika orang
tersebut belum mengenali kita secara detail dan mendalam, dia akan menganggap
kita sebagai satu kesatuan. Orang yang tidak tahu tentang indonesia, akan
menganggap bahwa seluruh orang indonesia itu sama: ramah, murah senyum, dsb.
Ketika dia mulai mengetahui diversitas penduduk indonesia, dia tahu ada
sumatra, jawa, kalimantan, borneo, papua, dan lainnya. Tapi, dia masih punya
anggapan bahwa seluruh orang di pulau jawa itu sama. Bahkan, beberapa orang di
daerah pedalaman sulawesi juga memiliki anggapan seperti itu. Klasifikasi yang
unik bahkan menyebut ‘sunda’ untuk jawa barat secara general; sebutan ‘jawa’
untuk jawa tengah; dan sebutan ‘surabaya’ untuk jawa timur. Contoh lagi, ketika
kita tidak tahu bagaimana itu negeri barat, kita akan menganggap bahwa bahasa
inggris itu semua sama, apakah itu british, american dengan logat texas khas
koboi, atau logat harlem khas afro-american.
Kenapa saya mengangkat permasalahan ini? Sebab, beberapa
hari yang lalu saya ditanya dalam sebuah diskusi santai, mengenai perpisahan
yang disebabkan oleh perbedaan.
Seluruh pengantar diatas, hanya sebuah pembuka, yang
mengarahkan kita semua kepada satu opini, yaitu bahwa ternyata persepsi
perbedaan itu hanya timbul ketika kita semakin mengenal sesuatu hal secara
detail dan mendalam. Jadi, ketika anda menemukan perbedaan terhadap seseorang,
bukankah itu karena anda berarti telah mengenalnya secara lebih dekat dan lebih
detail?
Anda tidak akan peduli terhadap perbedaan ataupun persamaan
terhadap sesuatu hal yang baru anda kenal. Semakin anda mengenal seseorang,
maka semakin besar peluang anda menemukan perbedaan yang ada.
Oleh karena itu,
ketika anda menyesali sebuah perbedaan yang terjadi, harusnya kita bersyukur,
karena itu artinya bahwa kita mengenal dia secara lebih dekat.
Ketika kemudian mengatakan bahwa ‘kami berpisah karena ada
perbedaan’, bukankah semua manusia itu memang berbeda? Kalau perbedaan adalah
alasan untuk berpisah dan berselisih, berarti tidak mungkin ada persatuan.
Sebab, semua manusia itu berbeda.
So, kesimpulannya, saya menutup dengan dua point:
1. 1.
Perbedaan itu sudah pasti
ada. Tidak mungkin kita meyalahkan perbedaan. Karena hal itu memang pasti ada.
Hal yang bisa kita koreksi adalah cara kita menyikapi perbedaan
2.
2. Mengetahui suatu perbedaan,
adalah suatu anugrah. Karena itu menjadi indikator bahwa anda mengenal hal
tersebut dengan lebih dekat. Kalau anda tidak ingin merasa berbeda dengan suatu
hal: maka jangan kenal hal tersebut!
Maka,
nikmatilah sebuah perbedaan...